Good Will Hunting (1997)

Sutradara: Gus Van Sant (Milk, Paris Je T’Aime)

Film ini bercerita tentang potongan hidup dari seorang Will Hunting remaja 21 tahun dari wilayah Boston, USA. Hidup sebagai seorang yatim piatu dan mengalami kekerasan baik dari temannya semasa kecil maupun oleh orang tua angkatnya, Will tumbuh sebagai seorang remaja yang defensive. Dia memiliki 3 orang sahabat dan salah satunya adalah Chukie Sullivan (Ben Afleck).

Bekerja sebagai seorang petugas kebersihan di MIT, Will memecahkan permasalahan-permasalahan  matematika rumit yang diperuntukan bagi mahasiswa tingkat akhir. Merasa heran persoalannya terpecahkan, seorang professor bernama Gerald Lambeau (Stellan Skarsgård), lalu mencari Will. Sayangnya, pertemuan tidak berlangsung semulus yang diperkirakan Lambeau. Will dipenjara atas perkelahian dengan temannya ketika TK dulu. Merasa sangat tertarik dengan kejeniusan Will, akhirnya Lambeau mengeluarkan Will dari penjara dengan 2 syarat yaitu: 1. Memecahkan masalah matematika. 2. Mengikuti terapi untuk perkembangan sikapnya. Awalnya tentu Will menolak untuk syarat yang ke-2, namun dibanding mendekam selama 2tahun dipenjara, akhirnya Will pun menyetujuinya.

Tak ada masalah dengan pemecahan soal matematika, yang paling rumit sekalipun, namun tidak begitu dengan terapi yang dijalani Will. Psikolog-psikolog itu dating dan pergi karena tidak berhasil menangani Will yang urakan hingga akhirnya Lambeau menemui teman lamanya di MIT, Sean Maguire (Robin Williams). Dan pertemuan dengan Maguire inilah yang mengubah hidup Will untuk selamanya.

Yang menarik selain kisah hidup Will dan segala penyesalannya dalam menjalani hidup, film ini juga membuka cerita antara 2 orang dewasa dan problematikanya masing-masing. Bagaimana perasaan seorang Lambeau yang melihat anak jenius tak terurus di depan matanya, berubah menjadi sebuah obsesi yang sedikit ditentang oleh Maguire. Disamping itu, ada ketiga sahabat Will yang dengan setia mendukung Will, termasuk Chukie, yang diperankan dengan sangat baik oleh Ben Afleck. Mungkin peran Chukie disini lebih bisa disebut sebagai seorang kakak yang selalu tahu bagaimana mengarahkan adiknya. Ada satu dialog antara Will dan Chukie yang meurut saya sangat menyentuh:

Will: What do I wanna way outta here for? I’m gonna live here the rest of my fuckin’ life. We’ll be neighbors, have little kids, take ’em to Little League up at Foley Field.
Chuckie: Look, you’re my best friend, so don’t take this the wrong way but, in 20 years if you’re still livin’ here, comin’ over to my house, watchin’ the Patriots games, workin’ construction, I’ll fuckin’ kill ya. That’s not a threat, that’s a fact, I’ll fuckin’ kill ya.
Will: What the fuck you talkin’ about?
Chuckie: You got somethin’ none of us have…
Will: Oh, come on! What? Why is it always this? I mean, I fuckin’ owe it to myself to do this or that. What if I don’t want to?
Chuckie: No. No, no no no. Fuck you, you don’t owe it to yourself man, you owe it to me. Cuz tomorrow I’m gonna wake up and I’ll be 50, and I’ll still be doin’ this shit. And that’s all right. That’s fine. I mean, you’re sittin’ on a winnin’ lottery ticket. And you’re too much of a pussy to cash it in, and that’s bullshit. ‘Cause I’d do fuckin’ anything to have what you got. So would any of these fuckin’ guys. It’d be an insult to us if you’re still here in 20 years. Hangin’ around here is a fuckin’ waste of your time.  

Problematika yang dihadapi Will mengajak kita untuk berpikir apa yang sudah kita lakukan selama kita hidup? Bagaimana kita menjalani hidup dan apa sebenarnya yang kita cari dari hidup yang kita piker sedang kita jalani. Semuanya dikemas secara menarik dan tidak membosankan oleh sang sutradara Gus Van Sant (Milk, Paris Je T’Aime). Saya sendiri tidak menanggapi tentang setting dan lainnya karena menurut saya, daya tarik film ini adalah penceritaannya itu sendiri. Tokoh yang ada, terkenal jaman sekarang dan belum tentu jaman dulu, memerankan perannya dengan sangat apik.

Film yang sangat cocok ditonton untuk memaknai hidup. Tontonlah bersama seorang sahabat atau sendiri dan rasakan sensasinya🙂.

Sunshine Cleaning (2008)

Sutradara: Christine Jeffs (Sylvia)

Satu lagi film tentang orang-orang biasa yang mencoba untuk memperbaiki kehidupan mereka yang berantakan. Bedanya, dua bintang utama film ini merupakan aktris-aktris yang biasanya memerankan peran yang “manis”.

Di masa SMA, Rose Lorowski (Amy Adams) merupakan kapten pemandu sorak, berpacaran dengan ketua tim football, Mac, dan kepopulerannya menjadi dambaan gadis-gadis lain. Bertahun-tahun kemudian, bukannya kehidupan impian seperti yang diprediksi teman-temannya yang dijalani Rose, tetapi keadaan memaksanya menjadi seorang pembantu rumah tangga. Hubungannya dengan Mac masih terus berlanjut, namun sekarang dia berstatus pacar gelap Mac yang istrinya tengah mengandung anak kedua mereka.

Hidup semakin memburuk bagi Rose. Putranya yang berusia 7 tahun dikeluarkan dari sekolahnya sehingga Rose memutuskan untuk beralih profesi dan menjalankan usahanya sendiri, yaitu jasa pembersihan TKP (crime-scene cleaning/biohazard removal) agar dapat menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Dalam usahanya Rose menggandeng adiknya yang ugal-ugalan, Norah (Emily Blunt), yang masih tinggal bersama sang ayah, seorang lelaki yang melihat peluang bisnis dalam segala hal yang dia lakukan. Sambil menyelam minum air, begitu pikir Rose. Selain Norah dapat membantunya dalam menjalankan usahanya, Rose bisa sekalian menjaga adiknya agar tidak terlalu membebani ayah mereka.

Rose dan Norah, dua wanita tanpa kualifikasi dan pengalaman yang dibutuhkan dalam bidang pembersihan TKP, awalnya asal-asalan mengerjakan pekerjaan baru mereka. Tembok yang bersimbah darah dibersihkan dengan sikat gigi, kasur yang bernoda mencurigakan mereka buang dengan seenaknya ke tempat pembuangan sampah. Awalnya mereka tidak memahami adanya prosedur khusus dalam pekerjaan yang mereka geluti. Namun dengan bantuan Winston, seorang penjaga toko penyedia alat-alat pembersih, Rose dan Norah mulai melaksanakan pekerjaan mereka dengan serius. Lambat laun mereka merasakan hubungan dengan keluarga para korban yang mereka “bersihkan”, bahkan mulai merasa bangga dengan pekerjaan mereka, karena mereka membantu keluarga yang sedang melalui saat-saat sulit dalam kehidupan mereka. Pelan tapi pasti, pekerjaan sebagai biohazard cleaner membawa perubahan ke dalam kehidupan mereka.

Amy Adams, yang mulai dikenal sejak memerankan Giselle, putri yang terdampar di dunia nyata dalam Enchanted (2007), berhasil memerankan sosok ibu tunggal yang frustasi dengan kehidupannya, terjebak pada pencapaiannya di masa lalu. Adams memperlihatkan chemistry yang nyata dengan Emily Blunt yang berperan sebagai adiknya di film ini. Kaget juga melihat Emily Blunt memerankan seseorang yang sangat jauh dari elegan, tapi kasar dan berantakan, mengeluarkan sumpah serapah di tiap perkataannya.

Akting yang baik tidak akan bisa menyelamatkan sebuah film jika ceritanya tidak bagus. Awalnya, saya kira film ini akan dipenuhi dengan kelucuan-kelucuan yang menjurus ke arah slapstick akibat kejadian-kejadian di tempat kerja Rose dan Norah. Ternyata humor yang ditawarkan film ini adalah tipe humor seperti di film-film dramedy (drama-komedi) pada umumnya; kita akan dibuat tertawa dengan kejadian-kejadian sehari-hari. Ceritanya sebetulnya standar, namun konflik berhasil dibangun dengan rapi sehingga kita pun sulit untuk menebak akhir ceritanya. Endingnya pun dibiarkan terbuka, tanpa memberikan kesimpulan yang pasti, membiarkan penonton mereka-reka bagaimana kelanjutan kisah masing-masing tokohnya.

Film yang pertama dikeluarkan pada Sundance Film Festival 2008 ini dari segi cerita mungkin tidak menawarkan sesuatu yang baru, tapi permainan watak yang ditawarkan Amy Adams dan Emily Blunt menjadi daya tarik tersendiri yang sayang untuk dilewatkan.

Sunshine Cleaning (2008)

 

Sutradara: Christine Jeffs (Sylvia)

Satu lagi film tentang orang-orang biasa yang mencoba untuk memperbaiki kehidupan mereka yang berantakan. Bedanya, dua bintang utama film ini merupakan aktris-aktris yang biasanya memerankan peran yang “manis”.

Di masa SMA, Rose Lorowski (Amy Adams) merupakan kapten pemandu sorak, berpacaran dengan ketua tim football, Mac, dan kepopulerannya menjadi dambaan gadis-gadis lain. Bertahun-tahun kemudian, bukannya kehidupan impian seperti yang diprediksi teman-temannya yang dijalani Rose, tetapi keadaan memaksanya menjadi seorang pembantu rumah tangga. Hubungannya dengan Mac masih terus berlanjut, namun sekarang dia berstatus pacar gelap Mac yang istrinya tengah mengandung anak kedua mereka.

Hidup semakin memburuk bagi Rose. Putranya yang berusia 7 tahun dikeluarkan dari sekolahnya sehingga Rose memutuskan untuk beralih profesi dan menjalankan usahanya sendiri, yaitu jasa pembersihan TKP (crime-scene cleaning/biohazard removal) agar dapat menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Dalam usahanya Rose menggandeng adiknya yang ugal-ugalan, Norah (Emily Blunt), yang masih tinggal bersama sang ayah, seorang lelaki yang melihat peluang bisnis dalam segala hal yang dia lakukan. Sambil menyelam minum air, begitu pikir Rose. Selain Norah dapat membantunya dalam menjalankan usahanya, Rose bisa sekalian menjaga adiknya agar tidak terlalu membebani ayah mereka.

Rose dan Norah, dua wanita tanpa kualifikasi dan pengalaman yang dibutuhkan dalam bidang pembersihan TKP, awalnya asal-asalan mengerjakan pekerjaan baru mereka. Tembok yang bersimbah darah dibersihkan dengan sikat gigi, kasur yang bernoda mencurigakan mereka buang dengan seenaknya ke tempat pembuangan sampah. Awalnya mereka tidak memahami adanya prosedur khusus dalam pekerjaan yang mereka geluti. Namun dengan bantuan Winston, seorang penjaga toko penyedia alat-alat pembersih, Rose dan Norah mulai melaksanakan pekerjaan mereka dengan serius. Lambat laun mereka merasakan hubungan dengan keluarga para korban yang mereka “bersihkan”, bahkan mulai merasa bangga dengan pekerjaan mereka, karena mereka membantu keluarga yang sedang melalui saat-saat sulit dalam kehidupan mereka. Pelan tapi pasti, pekerjaan sebagai biohazard cleaner membawa perubahan ke dalam kehidupan mereka.

Amy Adams, yang mulai dikenal sejak memerankan Giselle, putri yang terdampar di dunia nyata dalam Enchanted (2007), berhasil memerankan sosok ibu tunggal yang frustasi dengan kehidupannya, terjebak pada pencapaiannya di masa lalu. Adams memperlihatkan chemistry yang nyata dengan Emily Blunt yang berperan sebagai adiknya di film ini. Kaget juga melihat Emily Blunt memerankan seseorang yang sangat jauh dari elegan, tapi kasar dan berantakan, mengeluarkan sumpah serapah di tiap perkataannya.

Akting yang baik tidak akan bisa menyelamatkan sebuah film jika ceritanya tidak bagus. Awalnya, saya kira film ini akan dipenuhi dengan kelucuan-kelucuan yang menjurus ke arah slapstick akibat kejadian-kejadian di tempat kerja Rose dan Norah. Ternyata humor yang ditawarkan film ini adalah tipe humor seperti di film-film dramedy (drama-komedi) pada umumnya; kita akan dibuat tertawa dengan kejadian-kejadian sehari-hari. Ceritanya sebetulnya standar, namun konflik berhasil dibangun dengan rapi sehingga kita pun sulit untuk menebak akhir ceritanya. Endingnya pun dibiarkan terbuka, tanpa memberikan kesimpulan yang pasti, membiarkan penonton mereka-reka bagaimana kelanjutan kisah masing-masing tokohnya.

Film yang pertama dikeluarkan pada Sundance Film Festival 2008 ini dari segi cerita mungkin tidak menawarkan sesuatu yang baru, tapi permainan watak yang ditawarkan Amy Adams dan Emily Blunt menjadi daya tarik tersendiri yang sayang untuk dilewatkan.

127 Hours (2010)

Sutradara: Danny Boyle (The Beach, 28 Days Later, Slumdog Millionaire)

Film tentang petualangan dan semangat hidup yang membuat kita (oke, saya) merasa amat tak bersyukur akan apa yang saya miliki dan bagi mereka yang mengidolakan James Franco, pasti akan sangat bahagia akan film ini karena film ini sangat penuh James Franco.

127 hours adalah visualisasi kisah Aron Ralston yang terjebak di gurun selama 5 hari sehingga ia membuat suatu keputusan besar agar dapat bertahan hidup bersama sebuah pisau tumpul yang dimilikinya.

Aron Ralston, diperankan oleh James Franco, adalah seorang pendaki gunung dan seorang petualang. Suatu ketika ia memutuskan untuk menjelajahi tebing di wilayah Utah, Amerika Serikat tanpa memberi tahu siapapun. Semua berjalan lancar hingga ia terperangkap di salah satu ngarai sempit bersama batu besar yang menghimpit tangan kanannya. Saat itulah petualangan 127 -hard breathing- hours nya dimulai.

Danny Boyle sebagai sutradara sangat apik menggarap film ini. Ia berhasil membuat sajian menarik dari angle-angle sempit yang tersedia (usahanya untuk mengeksplor angle sangat patut diacungi jempol). Bagi saya pribadi, ketika mendengar Danny Boyle, hal yang terlintas adalah film-film penuh inspirasi, kebebasan, dan nyaris seperti dokumenter. O iya, di film ini juga Boyle berkolaborasi dengan A.R. Rahman (ingat Jai Ho?) untuk scoringnya.

Yang menarik dari film ini adalah pembentukan Aron Ralston sebagai seorang manusia biasa dengan amat baik. Manusia biasa yang memiliki kelemahan (bukan manusia super dengan range emosi yang amat lebar — tak pernah mengeluh, sabar, dan selalu bersyukur, yang lebih dilebihkan lagi ketika dibuat film tentang mereka), Aron Ralston si manusia biasa yang memiliki semangat luar biasa untuk berathan hidup.

Dan Hal itulah yang diangkat oleh Danny Boyle. Kita akan disuguhkan bagaimana harapan-harapan yang dimiliki sang tokoh utama ketika ia terbebas dari masalah yang ia hadapi, penyesalan akan hal-hal kecil yang ia buat, kenangan-kenangan akan masa lalunya, keluhan seperti oh-kenapa-ini-terjadi-padaku semuanya digambarkan dengan baik. Baik dan pas, saya menduga bahwa jika bukan seperti apa yang digambarkan Boyle, mungkin beberapa adegan akan berakhir menjadi suatu adegan yang oh-ya-ampun-apa-banget-deh.

Secara keseluruhan film ini adalah film yang amat tidak rugi untuk ditonton dan meskipun kalian tidak suka darah, kalian tetap bisa menonton film ini. Karena ini adalah sebuah film dimana kita selalu bisa menutup mata dan telinga untuk men-skip adegan yang tidak ingin kalaian lihat🙂.

Butterfly Effect (2004)

Sutradara; Eric Bress, J (Final Destination 2). Mackye Gruber (Final Destination 2)

Bagi saya film ini adalah sebagai penggambaran dari emosi yang kita dapat ketika kita mengerjakan kuis matematika yang sangat sulit. Penasaran akan proses pengerjaan yang kita pikir mampu kita selesaikan membuat kita tak akan begitu peduli dengan hasilnya. Yang jelas ada perasaan lega teramat sangat ketika film ini berakhir.

Film ini bercerita mengenai seorang pemuda bernama Evan yang sering mengalami kekosongan memori saat Ia masih kecil. Ia sering berada di suatu tempat, namun ia tidak ingat kenapa ia berada disitu. Ketakutan, akhirnya Ibunya membawa Evan ke psikiater yang kemudian menyarankan Evan untuk membuat jurnal kegiatannya.

Jurnal demi jurnal ia buat dan seiring berlalunya waktu, kekosongan-kekosongan memori yang ia alami makin berkurang. Ia menjadi sadar akan kemampuannya untuk berpindah ruang dan waktu ketika ia membaca jurnal-jurnal masa kecilnya ketika ia dewasa. Dengan kemampuannya itu, ia kemudian menjelajahi masa kecilnya dan mencoba merubah beberapa hal yang menurutnya akan menghindarkan ia dari masalah ketika ia tumbuh dewasa.

Akting yang diperlihatkan oleh Ashton Kutcher sebagai seorang pria yang hampir gila cukup baik. Penggambaran emosi yang dibangun sang sutradara dengan amat baiknya akan membuat kita lelah menonton film ini. Lelah akan emosi kita yang turun naik, yang walaupun settingan film ini seperti film drama biasa tetap akan berbeda karena cerita yang disampaikannya.

Film ini benar-benar menggambarkan teori efek kepakan kupu-kupu dengan sangat baik.

Letters To Juliet (2010)

Letters To Juliet

Sutradara: Gary Winick (13 Going On 30, Bride Wars, Charlotte’s Web, Pieces Of April)

Tertipu. Itulah kata yang terlintas di otak setelah usai menonton film besutan Gary Winick ini. Tertipu karena kesederhanaan plot, karakter-karakter yang tidak berkesan dan terlalu banyaknya kejadian “kebetulan” membuat film ini agak memuakkan. Saya kira film ini film romantis yang charmingseperti Chocolat atau The Holiday, tapi ternyata saya keliru.

Sophie dan tunangannya, Victor, mengadakan sebuah pre-honeymoon ke Verona, Italy. Setibanya di sana, Victor malah terlalu sibuk bertemu supplier, mengikuti lelang anggur, hingga belajar masak untuk mempersiapkan restorannya di New York, hingga secara tidak langsung dia meninggalkan Sophie untuk bertamasya mengelilingi Verona seorang diri. Sophie tiba di House of Juliet, tempat di mana wanita dari berbagai penjuru dunia menulis surat kepada Juliet Capulet (dari Romeo and Juliet) tentang kisah cinta mereka. Sophie pun bergabung dengan Secretaries of Juliet, sekumpulan wanita yang membalas surat-surat yang ditujukan kepada Juliet. Pada hari pertamanya bekerja, Sophie menemukan sebuah surat yang ditulis oleh Claire, seorang wanita Inggris, mengenai keputusannya meninggalkan Lorenzo, cinta sejatinya saat itu, 50 tahun silam. Sophie merasa tersentuh oleh surat itu dan dia memutuskan untuk menulis balasannya. Kurang dari seminggu kemudian, Claire yang kini sudah berumur 65 tahun, beserta cucunya, Charlie, tiba di Verona untuk mencari Lorenzo, berkat surat balasan dari Sophie (atas nama Juliet) yang mengatakan bahwa tidak ada kata terlambat dalam pencarian cinta sejati. Yang terjadi selanjutnya adalah petualangan Claire, Charlie dan Sophie mengelilingi Verona untuk mencari Lorenzo Bartollini.

Oke, sebetulnya film ini berpotensi untuk menjadi film yang membuat klepek-klepek, tapi sayangnya gagal. Pertama, dari tokoh utama,Sophie, yang menyebalkan dan sikapnya yang tidak membuat kita simpatik kepadanya. Selain itu, ceritanya kan dia ingin menjadi penulis untuk The New Yorker, dan menurut Charlie tulisan dia memang “really, really, really good”. Sayangnya, Amanda Seyfried sebagai pemeran Sophie gagal menampilkan karakter seorang penulis, dia malah terlihat lebih cocok seperti remaja labil yang sedag menemani neneknya keliling Italia. Begitu juga dengan Chris Egan yang berperan sebagai Charlie. Setahu saya Chris Egan itu orang Australia, tapi akting dia sebagai orang Inggris cenderung berlebihan dan tidak enak untuk dilihat. Setiap kali melihat dia tampil, rasanya saya ingin meringis.

Untungnya Gael Garcia Bernal sebagai Victor dan Vanessa Redgrave sebagai Claire berhasil memerankan karakter-karakter mereka yang passionatedengan sangat baik. Sangat menyenangkan melihat Victor ketika dia sedang berbicara tentang makanan, atau Claire saat dia sedang membicarakan Lorenzo.

Kedua adalah dari segi cerita. Ceritanya standar dengan ending yang mudah ditebak. Bagian-bagian film yang menceritakan hubungan antara Sophie dan Charlie pun tidak diceritakan dengan baik, hubungan mereka terbangun dengan sangat terburu-buru, dengan konflik yang terlalu standar dan membosankan.

Tadinya saya menonton film ini dalam rangka memanjakan diri. Menonton film-film ringan yang menghibur. Sayangnya, film ini hanya ringan, tidak menghibur. Banyaknya clichẻ yang bertaburan sepanjang film ini membuat saya meringis dan sebal. Film ini terlalu ringan dan sangat hampa, menguras emosi pun tidak. Padahal film ini sebetulnya cukup berpotensi. Ubah saja karakter serta para pemeran Sophie dan Charlie. Ha!

Horton Hears A Who! (2008)

Sutradara: Jimmy Hayward (Jonah Hex), Steve Martino

Film anak yang sarat dengan pesan, tetapi sebagai film, biasa-biasa saja.

Itulah yang terlintas di pikiran saya seusai menonton Horton Hears A Who, sebuah film animasi yang diadaptasi dari sebuah cerita anak karya Dr. Seuss.

Dikisahkan seekor gajah yang bernama Horton pada suatu hari mendengar teriakan minta tolong dari setitik debu. Horton, si gajah lincah nan baik hati, mengasumsikan bahwa pada debu tersebut terdapat makhluk hidup, yang walaupun hanya berukuran mikroskopis, tetap merupakan seseorang. Atau, seperti yang dia ucapkan berulang-kali sepanjang film: “a person’s a person, no matter how small.

Ternyata di sepucuk debu tersebut memang terdapat makhluk hidup, bahkan sebuah kota! Kota tersebut, Whoville, dipimpin oleh seorang walikota bernama Dodd. Percakapan perdana antara Horton dan Dodd menyadarkan Horton bahwa dia harus memindahkan Whoville ke tempat aman, karena gerakan-gerakan kecil yang dia lakukan berpengaruh besar terhadap kehidupan di Whoville (perubahan cuaca ekstrim, tanah yang menjadi miring, dll). Tempat itu, dia putuskan, adalah puncak Mount Nool.

Reaksi beragam muncul dari hewan-hewan penghuni hutan yang lain. Dari kekaguman anak-anak hingga kecaman dari kangguru penguasa hutan. Sang kangguru menganggap bahwa para Who tidak nyata karena dia tidak bisa melihat, mendengar atau merasakan kehadiran mereka. Tapi Horton keukeuh dengan pendiriannya bahwa sekecil apapun, pasti termasuk orang. Film berlanjut dengan upaya kangguru untuk menggagalkan perjalanan Horton membawa Whoville ke tempat yang aman.

Film ini sebetulnya mendapat rating yang cukup bagus, bahkan Rotten Tomatoes memberi film ini predikat “Certified Fresh”, tapi buat saya film ini kurang memuaskan. Banyak hal yang terasa mengganjal, baik dari segi animasinya yang biasa-biasa saja, perpindahan antaradegan yang kadang-adang kurang mulus, hingga joke-joke-nya yang terasa garing – bisa jadi karena guyonannya memang lebih ditujukan bagi anak-anak.

Karakter-karakternya pun membuat film ini terasa seperti proses membuat mie instan: rebus mie dan bumbu ala kadarnya agar makanan bisa disajikan dengan cepat. Selain para tokoh utama, tokoh-tokoh lain terasa sebagai tempelan dan tidak memiliki karakter. Seringkali tidak ada landasan atas tindakan-tindakan mereka. Misalnya istrinya Dodd, yang awalnya mengira Dodd sakit jiwa karena membayangkan bahwa ada makhluk yang jauh lebih besar daripada mereka, tiba-tiba mempercayai perkataan Dodd, padahal belum ada buktinya. Atau mengapa Vlad si burung bangkai tiba-tiba mau memburu Horton tanpa bayaran apapun, padahal sebelumnya dia hanya mau melakukannya dengan harga yang cukup “tinggi”. Aneh dan membuat saya bertanya-tanya hingga akhir film, selain menambah daftar ganjalan yang dihadirkan film ini.

Kalau bicara secara keseluruhan, yaa okelah, film ini cukup menghibur dan banyak pesan moral yang bisa diambil, seperti seorang pemimpin harus selalu memperhatikan rakyatnya, atau pentingnya memiliki integritas dalam membela rakyat kecil, daaan lain-lain. Cukup banyak analogi bagi kehidupan nyata yang bisa ditemukan di film ini, jika kita memperhatikan dengan cukup baik. Tapi kan film itu bukan selalu tentang pesan yang ingin disampaikan. Jika cerita yang ditawarkan kurang baik, penyampaian pesan pun menjadi agak terhambat. Dan kurangnya perhatian pada detail membuat film ini menjadi biasa-biasa saja. Sayang sekali.

The Fall

Director: Tarsem Singh

Writers: Dan Gilroy (screenplay), Nico Soultanakis (screenplay)

Bahkan mata kita akan dipenosakan dari mulai titling!

Ide yang sangat sederhana namun digarap dengan sangat apik oleh Tarsem Singh ini bercerita mengenai keseharian seorang Alexandria (Catinca Untaru), gadis eropa timur berumur 5 tahun yang sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Kota Los Angeles. Semua kenal Alexandria, mulai dari suster, dokter, pastor, bahkan si pengantar es. Hidupnya berubah ketika Ia bertemu Roy (Lee Pace), seorang stuntman yang mengalami kelumpuhan akibat jatuh dari ketinggian, dan ia depresi cinta.

Hampir setiap hari mereka bertemu atau lebih tepatnya Alexandria mendatangi bangsal tempat Roy dirawat. Emosi Alexandria terbawa akibat cerita yang dituturkan oleh Roy dan makin lama, cerita itu menjadi suatu yang tak bisa diacuhkan Alexandria begitu saja hingga Ia tidak menyadari bahwa Roy hanya memanfaatkannya saja.

Keindahan justru dimulai ketika Roy bercerita, bagaimana setiap kata yang diucapkan Roy menjadi sesuatu yang hidup di dalam imajinasi Alexandria. Pikirannya terus merangkai semua cerita. Bagaimana terdapat 5 orang yang memiliki kepentingan yang sama terhadap satu musuh, Governor Odius (Daniel Caltagirone) dan petualangan mereka ke berbagai tempat digambarkan dengan sangat menarik, indah, lucu, dan mungkin agak tak terduga.

Bersettingkan sekitar tahun 1915, The Fall datang dengan segala keindahannya. Tarsem dengan sangat bijak mengajak kita ke dalam sebuah proses imajinasi dimana kita benar-benar yang menjadi tuan rumah dari imajinasi kita sendiri. Pengambilan gambar yang sangat baik dari sudut yang baik dan dengan lokasi yang sama baiknya membuat film ini menjadi sebuah tontonan yang menarik, nyaman, dan menyenangkan.